Macam-macam
Sabar Dalam al-Qur’an
Aspek
kesabaran sangat luas, lebih luas dari apa yang selama ini dipahami oleh orang
mengenai kata sabar. Imam al-Ghazali berkata, “Bahwa sabar itu ada dua; pertama
bersifat badani (fisik), seperti menanggung beban dengan badan, berupa pukulan
yang berat atau sakit yang kronis. Yang kedua adalah al-shabru al-Nafsi
(kesabaran moral) dari syahwat-syahwat naluri dan tuntutan-tuntutan hawa nafsu.
Bentuk kesabaran ini (non fisik) beraneka macam;
Jika
berbentuk sabar (menahan) dari syahwat perut dan kemaluan disebut iffah
Jika di dalam
musibah, secara singkat disebut sabar, kebalikannya adalah keluh kesah.
Jika sabar di
dalam kondisi serba berkucukupan disebut mengendalikan nafsu, kebalikannya
adalah kondisi yang disebut sombong (al-bathr)
Jika sabar di
dalam peperangan dan pertempuran disebut syaja’ah (berani), kebalikannya adalah
al-jubnu (pengecut
Jika sabar di
dalam mengekang kemarahan disebut lemah lembut (al-hilmu), kebalikannya adalah
tadzammur (emosional)
Jika sabar
dalam menyimpan perkataan disebut katum (penyimpan rahasia)
Jika sabar
dari kelebihan disebut zuhud, kebalikannya adalah al-hirshu (serakah)
Kebanyakan
akhlak keimanan masuk ke dalam sabar, ketika pada suatu hari Rasulullah saw
ditanya tentang iman, beliau menjawab: Iman aadalah sabar. Sebab kesabaran
merupakan pelaksanaan keimanan yang paling banyak dan paling penting. “Dan
orang-orang yang sabar dalam musibah, penderitaan dan dalam peperangan mereka
itulah orang-orang yang benar imannya, dan mereka itulah orang-orang yang
bertakwa” (QS. Al-Baqarah [2]: 177)
Dari itu kita
dapat memahami mengapa al-Qur’an menjadikan masalah sabar sebagai kebahagiaan
di akhirat, tiket masuk ke surga dan sarana untuk mendapatkan sambutan para
malaikat. Dalam surat Al-Insan [72]: 12 “Dan Dia memberi balasan kepada mereka
atas kesabaran mereka dengan surga dan (pakaian) sutera”. Dalam surat Ar-Ra’d
[13]:23-24 “...Dan para malaikat masuk kepada tempat-tempat mereka dari semua
pintu (sambil mengucapkan); keselamatan atas kalian berkat kesabaran kalian.
Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.”
Sabar, Suatu
Kekhasan Manusia
Sabar adalah
kekhasan manusia, sesuatu yang tidak terdapat di dalam binatang sebagai faktor
kekurangannya, dan di dalam malaikat sebagai faktor kesempurnaannya.
Binatang
telah dikuasai penuh oleh syahwat. Karena itu, satu-satunya pembangkit gerak
dan diamnya hanyalah syahwat. Juga tidak memiliki “kekuatan” untuk melawan
syahwat dan menolak tuntutannya, sehingga kekuatan menolak tersebut bisa
disebut sabar.
Sebaliknya,
malaikat dibersihkan dari syahwat sehingga selalu cenderung kepada kesucian
ilahi dan mendekat kepada-Nya. Karena itu tidak memerlukan “kekuatan” yang
berfungsi melawan setiap kecenderungan kepada arah yang tidak sesuai dengan
kesucian tersebut.
Tetapi
manusia adalah makhluk yang dicipta dalam suatu proses perkembangan; merupakan
makhluk yang berakal, mukallaf (dibebani) dan diberi cobaan, maka sabar adalah
“kekuatan” yang diperlukan untuk melawan “kekuatan” yang lainnya. Sehingga
terjadilah “pertempuran” antara yang baik dengan yang buruk. Yang baik dapat
juga disebut dorongan keagamaan dan yang buruk disebut dorongan syahwat.
Pentingnya
Kesabaran
Agama tidak
akan tegak, dan dunia tidak akan bangkit kecuali dengan sabar. Sabar adalah
kebutuhan duniawi keagamaan. Tidak akan tercapai kemenangan di dunia dan
kebahagaiaan di akhirat kecuali dengan sabar.
Al-Qur’an
telah mengisyaratkan pentingnya kesabaran ini. Ketika mengyinggung masalah penciptaan
manusia dan cobaan penderitaan yang akan dihadapinya. Dalam surat Al-Insaan
[76]: 2 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang
tercampur yang Kami hendak mengujinya )dengan perintah dan larangan)”.
Pentingnya
Kesabaran Bagi Orang Beriman.
Sudah menjadi
sunnatulah bahwa kaum muslimin harus berhadapan dengan para musuhnya yang jahat
yang membuat makar dan tipu daya. Seperti Allah menciptakan Iblis untuk Adam;
Namrud untuk Ibrahim; Fir’aun untuk Musa dan Abu Jahal untuk Muhammad saw.
Dalam Surat
al-Ankabut [29]]: 1-3 “Ali Laam Miim. Apakah manusia mengira bahwa mereka
dibiarkan (saja) mengatakan; kami telah beriman, padahal mereka belum diuji
lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka
sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya dia
mengetahui orang-orang yang dusta.”
0 komentar:
Posting Komentar